Topik: Pencegahan HIV
Narasumber: Dr. Nittaya Phanuphak (Institute of HIV Research and Innovation/IHRI), 8 April 2026
Diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Caroline Thomas (Peduli Hati Bangsa), 11 Mei 2026
Pencegahan HIV merupakan komponen kunci dalam upaya pengendalian epidemi HIV secara global. Pendekatan pencegahan saat ini tidak lagi bergantung pada satu intervensi tunggal, melainkan menggunakan strategi kombinasi yang mencakup PrEP, penggunaan kondom, konseling, skrining infeksi menular seksual (IMS), terapi pasca pajanan (PEP), serta program pengurangan dampak buruk seperti penyediaan jarum suntik steril dan promosi U=U (Undetectable = Untransmittable).
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi pencegahan HIV mengalami kemajuan pesat, khususnya dengan hadirnya long-acting PrEP, yang diharapkan dapat mengatasi tantangan kepatuhan penggunaan obat harian.
Tujuan Sesi
Sesi ini bertujuan untuk:
- Memberikan pembaruan terkait perkembangan terbaru dalam pencegahan HIV, khususnya long-acting PrEP
- Mengidentifikasi tantangan akses dan implementasi di kawasan Asia-Pasifik
- Mendorong diskusi terkait strategi kebijakan dan implementasi berbasis pilihan (choice-based prevention)
Ringkasan Materi
- Gambaran Umum Pencegahan HIV Terkini
Pencegahan HIV bersifat kombinasi (combination prevention), mencakup:
- PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis)
- Kondom
- Konseling
- Skrining & manajemen infeksi menular seksual
- PEP (Post-Exposure Prophylaxis)/Profilaksis Pasca Pajanan
- Program jarum suntik steril
- Sirkumsisi medis laki-laki
- U=U (Undetectable = Untransmittable) /Tidak terdeteksi = Tidak menularkan
Artinya, tidak ada satu intervensi tunggal yang cukup—semua harus terintegrasi.
- Perkembangan Long-Acting PrEP
Berbagai inovasi long-acting PrEP saat ini sedang dikembangkan dan/atau telah tersedia, antara lain:
- Oral bulanan (misalnya MK-8527, islatravir)
- Cincin vagina dapivirine (bulanan)
- Implan (tahunan)
- Suntikan:
- Cabotegravir (setiap 2 bulan)
- Lenacapavir (setiap 6 bulan / tahunan)
- Antibodi (infus berkala)
Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan pengguna, karena tidak memerlukan konsumsi obat harian.
- Efektivitas Long-Acting PrEP
- Cabotegravir terbukti lebih efektif dibandingkan oral PrEP, dengan penurunan risiko hingga 88% pada perempuan dan 66% pada MSM dan transgender
- Lenacapavir menunjukkan efektivitas yang sangat tinggi, bahkan hingga mendekati 100% dalam beberapa studi
Keunggulan utama dari pendekatan ini adalah peningkatan kepatuhan pengguna.
4. Tantangan di Kawasan Asia-Pasifik
Meskipun inovasi berkembang pesat, cakupan PrEP di Asia-Pasifik masih sangat rendah:
- Kurang dari 5% target global tercapai pada tahun 2024
- Kebutuhan PrEP yang belum terpenuhi masih tinggi, terutama pada kelompok kunci seperti MSM dan transgender:
- ~59.9% MSM belum mendapatkan PrEP
- ~47.5% transgender women belum mendapatkan PrEP
Faktor penghambat meliputi:
- Keterbatasan akses dan ketersediaan layanan
- Harga produk yang masih tinggi
- Kurangnya pilihan metode yang sesuai preferensi pengguna
- Stigma dan diskriminasi
Preferensi Pengguna dan Pentingnya Pilihan
Studi menunjukkan bahwa pengguna memiliki preferensi yang beragam terhadap metode PrEP, termasuk pilihan oral, suntikan, atau implant atau penggunaan harian vs bulanan. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan “one-size-fits-all” dengan menggunakan satu metode saja misalnya oral PrEP tidak lagi relevan.
Program pencegahan HIV perlu bertransformasi menjadi berbasis pilihan (choice-based) untuk meningkatkan uptake dan keberhasilan program.
Pertimbangan Klinis dan Implementasi
Beberapa hal penting dalam penggunaan long-acting PrEP:
- Efek samping umumnya ringan (misalnya nyeri di lokasi suntikan)
- Perlu perhatian terhadap interaksi obat tertentu (misal rifampisin, antikonvulsan)
- Adanya fase “tail” atau “ekor” setelah penghentian, di mana obat masih berada di tubuh tetapi tidak lagi memberikan perlindungan optimal sehingga ada risiko resistensi jika seseorang tidak menggunakan alat pencegahan lain dan terinfeksi pada masa tersebut
Efektivitas PrEP Long-Acting
Long-acting PrEP dinilai lebih efektif karena tingkat kepatuhan yang lebih baik.
a. Cabotegravir (CAB-LA)
- Mengurangi risiko HIV:
- 88% (cis-women)
- 66% (MSM & trans)
- Suntikan tiap 2 bulan
- Lebih efektif karena tidak bergantung pada kepatuhan harian
b. Lenacapavir (LEN)
- Efektivitas sangat tinggi:
- Hingga 100% pada beberapa studi
- Suntikan tiap 6 bulan
- Proteksi mulai cepat (2–3 hari)
c. Cincin vagina Dapivirine (Dapivirine Vaginal Ring/DVR)
- Mengurangi risiko HIV sekitar 50%
- Aman dan dapat diterima (96% nyaman digunakan)
- Penting untuk pilihan pencegahan berbasis perempuan
Isu Akses dan Pembiayaan
Harga menjadi faktor penting dalam implementasi skala besar:
- Harga generik lenacapavir diperkirakan dapat turun hingga sekitar USD 25 per orang per tahun
- Produk lain seperti MK-8527 berpotensi lebih murah ($4.49/tahun)
Hal ini menunjukkan pentingnya:
- Produksi generik
- Negosiasi harga
- Mekanisme pembelian bersama secara regional
Inovasi Layanan
Pendekatan layanan juga berkembang, antara lain:
- HIV self-testing
- Telehealth untuk PrEP
- Model layanan berbasis komunitas
Pendekatan ini mendukung de-medicalization, yaitu memperluas akses layanan di luar fasilitas kesehatan formal.
Pembelajaran dari Thailand
Thailand telah mulai mengadopsi long-acting PrEP dan sedang memperbarui kebijakan nasional pada 2026:
- CAB-LA sudah tersedia (sekitar USD 460/injeksi)
- Jumlah orang yang menggunakan masih sedikit (100+ klien)
- Penguatan self-testing
- Diversifikasi model layanan (dokter, perawat, komunitas, apoteker, telehealth)
Kesimpulan
Kebutuhan terhadap PrEP di kawasan Asia-Pasifik masih sangat tinggi dan bersifat mendesak, terutama di kalangan populasi kunci yang belum terjangkau secara optimal. Kehadiran inovasi long-acting PrEP memberikan peluang besar untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan serta efektivitas pencegahan HIV secara keseluruhan. Namun demikian, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan akses, tingginya harga produk, serta kesiapan sistem layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih terkoordinasi dan strategis, termasuk upaya memperluas produksi obat generik serta memperkuat kerja sama regional guna memastikan ketersediaan dan keterjangkauan intervensi ini.
Rekomendasi
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan langkah-langkah strategis yang komprehensif. Pertama, kebijakan nasional perlu mengadopsi pendekatan pencegahan HIV berbasis pilihan (choice-based), sehingga individu dapat mengakses metode PrEP yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka. Kedua, akses terhadap long-acting PrEP harus diperluas melalui mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan dan inklusif. Ketiga, penguatan layanan berbasis komunitas, termasuk pemanfaatan HIV self-testing, perlu ditingkatkan guna menjangkau populasi yang selama ini sulit mengakses layanan kesehatan formal. Selain itu, kolaborasi regional harus didorong untuk mempercepat produksi dan distribusi produk generik yang lebih terjangkau. Terakhir, inovasi dalam penyelenggaraan layanan, seperti telehealth dan task shifting, perlu diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan untuk meningkatkan efisiensi dan cakupan layanan pencegahan HIV.

