Categories
All-id All-id Hepatitis-B-id Hepatitis-id Hepatitis-id HepC-id HepC-id HIV Hiv-id Hiv-id Reports-id Reports-id Webinar-en Webinar-en

Laporan dan Transkrip Webinar : WHO Revised Operational Guide for Needle and Syringe Programmes (05-02-26)

Dilaporkan oleh: Tim Peduli Hati Bangsa, 13 Februari 2026

Dalam sambutan pembukanya, Dr. Tereza Kasaeva (Direktur Departemen HIV, Tuberkulosis, Hepatitis, dan Infeksi Menular Seksual, WHO) menegaskan bahwa orang yang menggunakan narkoba suntik masih menghadapi risiko tinggi terhadap HIV, hepatitis virus, overdosis, dan dampak kesehatan lain yang dapat dicegah, sementara akses terhadap program jarum dan alat suntik di banyak negara masih belum memadai akibat stigma, diskriminasi, dan pendekatan yang tidak berbasis kesehatan masyarakat. Melalui peluncuran Panduan Operasional terbaru WHO, ia menekankan bahwa program jarum dan alat suntik merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang esensial, yang harus memastikan ketersediaan alat steril yang cukup, layanan yang fleksibel dan tidak menghakimi, serta pelibatan bermakna komunitas sebagai pemimpin dan mitra utama. Panduan ini, yang disusun bersama berbagai mitra global dan berlandaskan bukti ilmiah serta prinsip hak asasi manusia, diharapkan dapat memperkuat dan memperluas layanan guna mempercepat pencapaian target kesehatan global 2030.

Dalam presentasinya, Anton Mozalevskis (Pejabat Teknis untuk Populasi Kunci, Departemen HIV, Tuberkulosis, Hepatitis, dan Infeksi Menular Seksual, WHO) memperkenalkan Panduan Operasional WHO tentang Program Jarum dan Alat Suntik sebagai panduan praktis untuk membantu negara mengimplementasikan dan memperluas layanan harm reduction yang efektif. Ia menegaskan bahwa harm reduction adalah pendekatan berbasis kesehatan masyarakat dan hak asasi manusia yang terbukti cost-effective dalam menurunkan penularan HIV, hepatitis C, serta kematian akibat overdosis, dan harus terintegrasi dalam sistem kesehatan nasional dengan kepemimpinan komunitas. Meskipun bukti efektivitas layanan alat suntik steril sangat kuat, cakupan global masih jauh dari memadai. Panduan baru ini berfokus pada “bagaimana” pelaksanaan melalui lima modul utama: penilaian dan perencanaan, model layanan, layanan komprehensif, monitoring yang proporsional, serta perluasan dan keberlanjutan, dengan prinsip utama akses yang adil, partisipasi komunitas, serta penghapusan stigma dan diskriminasi untuk mencapai target kesehatan global 2030.

Annie Madden dari International Network of People Who Use Drugs (INPUD) menekankan bahwa keberhasilan layanan alat suntik steril tidak hanya bergantung pada bukti ilmiah, tetapi terutama pada keterlibatan bermakna komunitas pengguna narkoba suntik. Meskipun layanan alat suntik steril telah terbukti menyelamatkan nyawa, menurunkan penularan HIV dan hepatitis C, serta mencegah overdosis, banyak program masih belum optimal karena kurangnya konsultasi terhadap nilai dan preferensi pengguna layanan. Annie menegaskan bahwa suara dan pengalaman hidup komunitas harus menjadi dasar dalam pengadaan alat suntik dan perencanaan layanan, karena hal tersebut membangun kepercayaan, relevansi, dan meningkatkan pemanfaatan layanan. Ia juga menekankan bahwa konsultasi nilai dan preferensi tidak memerlukan sumber daya besar, tetapi membutuhkan komitmen untuk mendengarkan secara berkelanjutan, transparan, dan menghormati komunitas sebagai mitra utama dalam pendekatan pengurangan dampak buruk (harm reduction).

Kanishk Gupta dari PATH menegaskan bahwa kuantifikasi yang kuat dan berbasis kebutuhan merupakan kunci keberhasilan layanan alat suntik steril. Banyak program belum optimal bukan karena kurangnya komitmen, tetapi karena perencanaan kebutuhan yang lemah, kesalahpahaman terhadap indikator global, serta kurangnya integrasi nilai dan preferensi komunitas dalam proses pengadaan. Melalui pengembangan alat kuantifikasi bersama WHO, PATH berupaya menyediakan pendekatan praktis dan mudah digunakan yang menggabungkan estimasi populasi, riset nilai dan preferensi, serta target cakupan layanan ke dalam perencanaan yang realistis. Tujuannya adalah memastikan bahwa kuantifikasi menjadi alat pendukung untuk memperluas akses, mencegah penggunaan ulang atau berbagi alat suntik, dan pada akhirnya memperkuat upaya eliminasi HIV dan hepatitis C. Link untuk alat kuantifikasi adalah sebagai berikut: https://cdn.who.int/media/docs/default-source/hq-hiv-hepatitis-and-stis-library/nsp-quantification-tool_v1.7_21aug2025_zip.zip

Dalam presentasinya, Lisa Maher dari Kirby Institute menjelaskan bagaimana Australia berhasil menjaga prevalensi HIV pada orang yang menggunakan narkoba suntik tetap sangat rendah (di bawah 2%) melalui adopsi dini dan cakupan luas layanan alat suntik steril sejak pertengahan 1980-an. Keberhasilan ini didukung oleh kepemimpinan politik yang kuat, komitmen lintas partai terhadap harm reduction, kemitraan erat dengan organisasi pengguna narkoba, serta perluasan layanan secara cepat hingga menjangkau lebih dari 4.500 lokasi dengan berbagai model distribusi, termasuk layanan primer, apotek, mesin otomatis, dan distribusi oleh sebaya. Australia juga memperkuat responsnya dengan sistem surveilans nasional dan evaluasi berkelanjutan, serta analisis cost-benefit yang menunjukkan bahwa setiap dolar yang diinvestasikan dalam layanan alat suntik steril menghasilkan penghematan biaya kesehatan yang signifikan. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam menjangkau komunitas terpencil, masyarakat First Nations, dan populasi di fasilitas tertutup seperti penjara.

Thet Soe Aung dari Médecins du Monde (MdM) menegaskan bahwa respons terhadap penggunaan narkoba suntik di Negara Bagian Kachin, Myanmar, harus mempertimbangkan konteks konflik dan ketidakstabilan politik yang memperburuk kerentanan terhadap HIV, hepatitis, dan overdosis. Dengan prevalensi HIV yang tinggi di kalangan orang yang menggunakan narkoba suntik, MdM menerapkan pendekatan harm reduction berbasis komunitas melalui microplanning dan keterlibatan kuat pekerja sebaya, didukung oleh distribusi alat suntik steril melalui berbagai saluran seperti penjangkauan langsung, drop-in center, unit mobile, dan distribusi sekunder. Distribusi tahunan yang mencapai jutaan alat suntik menunjukkan bahwa peningkatan ketersediaan secara signifikan berkorelasi dengan penurunan insiden HIV. Ia menekankan bahwa untuk mencapai dampak yang bermakna, dibutuhkan cakupan tinggi—lebih dari 500 jarum dan alat suntik per orang per tahun—serta dukungan jangka panjang, perlindungan bagi pekerja sebaya, dan integrasi respons kesehatan masyarakat di wilayah terdampak konflik.

UNODC diwakili oleh Ehab Salah menegaskan bahwa layanan jarum dan alat suntik steril di penjara merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang esensial, berbasis bukti, dan berlandaskan hak asasi manusia, terutama mengingat tingginya prevalensi HIV dan hepatitis di lingkungan pemasyarakatan. Ia menekankan bahwa kesehatan di penjara tidak boleh dipisahkan dari kesehatan masyarakat secara keseluruhan, karena dampaknya meluas hingga ke komunitas setelah pembebasan. Meskipun efektivitas layanan ini telah terbukti, implementasinya masih sangat terbatas secara global akibat hambatan kebijakan, stigma, dan kurangnya komitmen politik. Oleh karena itu, diperlukan kemauan politik, kerangka kebijakan yang mendukung, serta kolaborasi dengan masyarakat sipil untuk memastikan harm reduction, termasuk layanan jarum dan alat suntik steril, terintegrasi secara berkelanjutan dalam sistem kesehatan penjara sebagai bagian dari upaya mengakhiri epidemi HIV.

Transkrip webinar dalam Bahasa Indonesia dapat dibaca dan diunduh di bawah ini:

Leave a Reply