Oleh: Jon Cohen, Science.org, 9 Januari 2026
Sebuah siaran pers perusahaan—meskipun belum disertai data—telah mengguncang dunia penelitian hepatitis B. Pada hari Rabu, 7 Januari 2026 GSK mengumumkan bahwa kandidat obatnya, bepirovirsen (disingkat bepi), menunjukkan hasil positif dalam dua uji klinis efikasi fase 3 yang berskala besar. GSK menyatakan akan segera mengajukan persetujuan kepada otoritas regulator obat. Jika dikonfirmasi, bepi berpotensi menjadi terapi pertama yang mampu memberikan “kesembuhan fungsional” pada lebih dari sekadar sebagian kecil pasien dengan hepatitis B kronis—sebuah pencapaian yang selama ini sangat sulit diraih.
Kesembuhan fungsional berarti pasien dapat menghentikan konsumsi obat harian, karena virus berhasil ditekan hingga tingkat yang dapat dikendalikan oleh sistem kekebalan tubuh sendiri.
“Para peneliti telah berjuang selama beberapa dekade, dan ini adalah langkah ke arah yang benar,” ujar ahli virologi Ju-Tao Guo, Presiden Institut Baruch S. Blumberg.
Diperkirakan sekitar 300 juta orang di dunia hidup dengan infeksi virus hepatitis B (HBV) kronis. Infeksi ini dapat berkembang menjadi sirosis, kanker hati, dan penyakit serius lainnya, yang secara keseluruhan menyebabkan lebih dari satu juta kematian setiap tahun.
Menghilangkan virus sepenuhnya dari tubuh merupakan tantangan besar. Seperti HIV, HBV mampu mengintegrasikan DNA-nya ke dalam genom manusia. Selain itu, HBV memiliki bentuk materi genetik unik yang disebut cccDNA, yang membentuk “kromosom mini” di dalam inti sel dan tidak dapat secara langsung ditargetkan oleh obat-obatan yang tersedia saat ini.
Karena itu, selama bertahun-tahun para peneliti berfokus pada pencapaian kesembuhan fungsional: pengobatan jangka terbatas yang mampu menekan virus ke tingkat sangat rendah sehingga sistem imun dapat mengendalikannya tanpa terapi lanjutan. Obat-obatan yang tersedia saat ini—analog nukleosida atau nukleotida yang menghambat replikasi DNA virus—memang efektif menekan replikasi HBV, tetapi hanya memberikan kesembuhan fungsional pada kurang dari 1% pasien. Selain itu, obat-obatan ini sering kali mahal, sulit diakses di negara berpenghasilan rendah dan menengah, serta tidak selalu mencegah progresivitas penyakit.
Bepirovirsen merupakan oligonukleotida antisense yang diberikan melalui suntikan mingguan. Obat ini bekerja dengan mengikat RNA messenger HBV, sehingga menghambat produksi protein virus baru. Beberapa bukti juga menunjukkan bahwa bepi dapat meningkatkan respons imun terhadap HBV, meskipun mekanisme ini masih menjadi bahan perdebatan.
Dalam uji klinis fase 2b yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada tahun 2022, sekitar 10% pasien yang menerima bepi bersamaan dengan terapi HBV standar menunjukkan DNA HBV dan antigen permukaan HBV yang tidak terdeteksi setidaknya selama 24 minggu setelah seluruh pengobatan dihentikan. Efek samping serius yang terkait dengan bepi relatif jarang.
Dua uji klinis fase 3 terkontrol plasebo yang dilakukan GSK melibatkan 1.800 peserta di 29 negara, seluruhnya sudah menggunakan terapi HBV standar. Kelompok intervensi menerima bepi bersama obat-obatan yang sudah disetujui selama 24 atau 48 minggu, sementara kelompok kontrol hanya melanjutkan terapi standar. Setelah itu, seluruh peserta menghentikan pengobatan HBV. Meskipun siaran pers GSK tidak menyertakan data rinci, perusahaan menyatakan bahwa uji klinis tersebut menunjukkan “tingkat kesembuhan fungsional yang bermakna secara statistik dan relevan secara klinis”, dan bahwa pengajuan persetujuan regulator global direncanakan sebelum April 2026.
“Ini adalah sinyal kuat bahwa kesembuhan fungsional merupakan tujuan yang realistis,” kata Nick Walsh, seorang ahli epidemiologi yang fokus pada penyakit hepatitis dan tidak terlibat dalam penelitian ini. Jika dikonfirmasi, obat ini merupakan “langkah maju yang nyata dalam upaya yang selama ini terbukti sangat sulit.”
Robert Gish, ahli hepatologi dan Direktur Medis Yayasan Hepatitis B, menyebut hasil ini “menggembirakan” jika memang setidaknya 10% pasien dapat menghentikan terapi. Namun, ia menekankan pentingnya transparansi data.
“GSK menyebutkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik, dan itu luar biasa. Namun, kita perlu melihat detail datanya untuk menilai seberapa besar dampak klinisnya,” ujarnya. (Gish sebelumnya pernah menjadi konsultan GSK, tetapi tidak terlibat dalam uji klinis ini.)
Para ahli ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kecepatan pembersihan virus, ketahanan jangka panjang dari penekanan virus, serta profil efek samping. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kesembuhan fungsional lebih sering terjadi pada pasien dengan kadar antigen permukaan HBV yang lebih rendah sebelum pengobatan. Menurut Guo, analisis parameter ini sebelum terapi bepi dapat membantu dokter mengidentifikasi pasien yang paling berpotensi mencapai kesembuhan fungsional.
Raymond Schinazi, ahli kimia medis dari Universitas Emory yang terlibat dalam pengembangan dua obat HBV yang saat ini digunakan secara luas, berharap GSK juga mempublikasikan data yang menjelaskan mengapa obat ini berhasil pada sebagian pasien tetapi tidak pada yang lain.
“Mereka perlu memahami mekanisme pastinya dan alasan variasi respons pasien,” katanya. Jika tingkat kesembuhan fungsional tidak jauh lebih tinggi dibandingkan hasil fase 2b, menurutnya bepi kemungkinan perlu dikombinasikan dengan obat baru lainnya agar memberikan dampak yang lebih besar.
Pengalaman dari terapi HIV menunjukkan bahwa kombinasi obat sering kali paling efektif, terutama jika menargetkan tahapan berbeda dalam siklus hidup virus. Sejumlah obat HBV lain yang saat ini sedang diuji klinis menawarkan pendekatan pelengkap, seperti menghambat masuknya virus ke dalam sel, mengganggu pembentukan kapsid virus, atau membungkam RNA virus melalui mekanisme berbeda. Pendekatan lain yang masih sangat awal mencoba menghilangkan cccDNA menggunakan teknologi pengeditan genom seperti CRISPR. Selain itu, oligonukleotida antisense lain yang dikembangkan oleh AusperBio telah menunjukkan hasil menjanjikan pada studi fase 2 dan kini memasuki uji kemanjuran.
GSK menyatakan berencana mengirimkan hasil lengkap penelitian ini ke jurnal ilmiah yang ditelaah sejawat dan mempresentasikannya dalam pertemuan ilmiah mendatang, meskipun belum memberikan jadwal pasti.
Artikel asli: New hepatitis B drug could help ‘functionally cure’ some patients
Tautan: https://www.science.org/content/article/new-hepatitis-b-drug-could-help-functionally-cure-some-patients
