Kategori
All-id HepC-id Journal

Pengobatan Hepatitis-C di Indonesia

Kami akan memutakhirkan data ini dari waktu ke waktu. Mohon cek media sosial dan situs web kami untuk mendapatkan informasi terbaru.

OLEH caroline thomas

Sejak tahun 2017, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memberikan pengobatan gratis kepada pasien dengan Hepatitis C.

Berikut adalah daftar obat yang didukung melalui Program Pemerintah (obat diberikan secara gratis):

  1. Sofosbuvir (harus digunakan dengan kombinasi): disediakan untuk sekitar 4,000 pasien per tahun
  2. Daclatasvir (harus digunakan dengan kombinasi): disediakan untuk sekitar 4,000 pasien per tahun

Selain pengobatan Hepatitis C, Pemerintah Indonesia juga menyediakan140,000 tes cepat per tahun secara gratis yang dapat diakses di rumah sakit rujukan dan Puskesmas di seluruh Indonesia. Daftar RS Rujukan dapat diakses di: http://pedulihatibangsa.id/direktori-layanan/

Selain dari obat yang didukung oleh Pemerintah, kami mengumpulkan beberapa informasi mengenai pembelian obat secara mandiri melalui apotik. Berikut adalah daftar singkatnya:

  1. Sofosbuvir (MyHep) + Daclatasvir (MyDekla) di Apotek Sehat Gemilang Jakarta.
  2. Sofosbuvir (MyHep) + Daclatasvir (MyDekla) di Apotek Kimia Farma RSCM Jakarta.
  3. Sofosbuvir+Velpatasvir (Epclusa) di Apotek Crystal Farma Tangerang. 

Untuk wilayah Indonesia yang lain, dapat menghubungi kami dan kami akan membantu mencari informasi.

Informasi mengenai Sofosbuvir

Sofosbuvir adalah obat yang digunakan untuk mengobati hepatitis C. Obat ini disetujui di Eropa pada Januari 2014 untuk pengobatan orang dewasa dengan semua genotipe hepatitis C kronis.

Untuk beberapa orang, Sofosbuvir akan menjadi pilihan pengobatan hepatitis C bebas interferon pertama. Pengobatan dengan Sofosbuvir terbukti berhasil mengurangi risiko komplikasi jangka panjang dari hepatitis C seperti kanker hati atau membutuhkan transplantasi hati.

Sofosbuvir adalah salah satu obat antivirus yang bertindak langsung yang menargetkan berbagai langkah siklus hidup virus hepatitis C (HCV). Obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim polimerase yang harus digunakan virus untuk bereproduksi. Sofosbuvir harus digunakan dengan kombinasi dengan obat lain.

Sofosbuvir diindikasikan untuk digunakan oleh orang dewasa dengan hepatitis C kronis untuk semua genotipe virus HCV (1, 2, 3, 4, 5 atau 6).

Sofosbuvir dapat digunakan oleh orang yang diobati untuk hepatitis C untuk pertama kalinya (dikenal sebagai ‘naif pengobatan’) dan untuk pengobatan ulang pada orang yang tidak disembuhkan dengan terapi berbasis interferon sebelumnya (dikenal sebagai ‘berpengalaman dengan pengobatan’).

Sofosbuvir juga telah diuji pada orang koinfeksi HIV dan HCV. Tingkat tanggapan dan efek samping Sofosbuvir adalah serupa dengan orang HIV-negatif, dan sofosbuvir tidak berinteraksi dengan obat HIV. Orang dengan koinfeksi HIV dan Hepatitis C yang ingin memakai Sofosbuvir harus melakukannya di bawah perawatan dokter yang memiliki pengalaman mengobati kedua infeksi tersebut.

Informasi mengenai Daclatasvir

Daclatasvir adalah obat yang digunakan untuk mengobati hepatitis C. Obat ini disetujui di Eropa pada Agustus 2014. Pada awalnya, Daclatasvir hanya digunakan untuk genotype 1-4 namun saat ini Daclatasvir dapat digunakan sebagai pengobatan orang dewasa dengan semua genotipe hepatitis C kronis.

Pengobatan dengan Daclatasvir terbukti berhasil mengurangi risiko komplikasi jangka panjang dari hepatitis C seperti kanker hati atau membutuhkan transplantasi hati.

Daclatasvir adalah salah satu obat antivirus yang bertindak langsung yang menargetkan berbagai langkah siklus hidup virus hepatitis C (HCV).

Daclatasvir adalah inhibitor (penghambat) NS5A pertama yang disetujui, yang berarti Daclatasvir dapat menghambat protein NS5A yang digunakan virus untuk bereproduksi.

Daclatasvir harus digunakan dengan kombinasi dengan obat lain.

Daclatasvir diindikasikan untuk digunakan oleh orang dewasa dengan hepatitis C kronis untuk semua genotipe virus HCV (1, 2, 3, 4, 5 atau 6).

Daclatasvir dapat digunakan oleh orang yang diobati untuk hepatitis C untuk pertama kalinya (dikenal sebagai ‘naif pengobatan’) dan untuk pengobatan ulang pada orang yang tidak disembuhkan dengan terapi berbasis interferon sebelumnya (dikenal sebagai ‘berpengalaman dengan pengobatan’).

Obat HIVDampak dari interaksi antar obatPenyesuaian dosis
Atazanavir/ritonavirMeningkatkan kadar DaclatasvirDari 60mg menjadi 30mg sekali sehari
IndinavirMeningkatkan kadar DaclatasvirDari 60mg menjadi 30mg sekali sehari
NelfinavirMeningkatkan kadar DaclatasvirDari 60mg menjadi 30mg sekali sehari
SaquinavirMeningkatkan kadar DaclatasvirDari 60mg menjadi 30mg sekali sehari
CobicistatMeningkatkan kadar DaclatasvirDari 60mg menjadi 30mg sekali sehari kecuali jika pasien menggunakan Darunavir yang dikombinasikan dengan cobicistat.
EfavirenzMenurunkan kadar DaclatasvirDari 60mg menjadi 90mg sekali sehari
EtravirineMenurunkan kadar DaclatasvirDari 60mg menjadi 90mg sekali sehari
NevirapineMenurunkan kadar DaclatasvirDari 60mg menjadi 90mg sekali sehari
Sumber daftar interaksi antar obat: https://www.rxlist.com/daklinza-drug.htm#interactions
Informasi mengenai Sofosbuvir/Velpatasvir (Epclusa)

Kombinasi Sofosbuvir+Velpatasvir (penghambat NS5A dan NS5B) adalah rejimen kombinasi pil tunggal pertama yang tersedia, dan sangat manjur untuk seluruh genotipe HCV 1 hingga 6. Ketersediaan obat ini memberikan pilihan tanpa interferon yang sangat dibutuhkan untuk pasien dengan:

  • Pasien yang memiliki sirosis kompensasi dengan genotipe 3

Untuk pasien dengan koinfeksi HIV-HCV, mohon perhatikan daftar interaksi antar obat (terlampir):

  • Hijau: Aman digunakan bersamaan
  • Kuning: Digunakan dengan pengawasan ketat
  • Merah: Tidak boleh digunakan bersamaan

Feature image : Electron micrographs of hepatitis C virus purified from cell culture. Scale bar is 50 nanometers. Courtesy of the Center for the Study of Hepatitis C, The Rockefeller University.
HCV_pictures.png: Maria Teresa Catanese, Martina Kopp, Kunihiro Uryu , and Charles Rice derivative work: TimVickers (talk)

4 tanggapan untuk “Pengobatan Hepatitis-C di Indonesia”

Jika ada indikasi untuk gangguan hati, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut ke dokter utk mengetahui penyebab bengkaknya perut. Jika menggunakan BPJS, sesuai dengan rujukan faskes. Jika membutuhkan tindakan lebih lanjut bisa ke faskes berikutnya tetapi tetap harus minta rujukan. Jika dites dan diketahui Hepatitis C reaktif maka RS rujukan bisa dilihat di sini (dengan atau tanpa BPJS): http://pedulihatibangsa.id/direktori-layanan-hepatitis-c-di-indonesia/

Balas

Jika ada indikasi untuk gangguan hati, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut ke dokter utk mengetahui penyebab bengkaknya perut. Jika menggunakan BPJS, sesuai dengan rujukan faskes. Jika membutuhkan tindakan lebih lanjut bisa ke faskes berikutnya tetapi tetap harus minta rujukan. Jika dites dan diketahui Hepatitis C reaktif maka RS rujukan bisa dilihat di sini (dengan atau tanpa BPJS): http://pedulihatibangsa.id/direktori-layanan-hepatitis-c-di-indonesia/

Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *